Minggu pagi, awal tahun baru 2020, aku baru menikmati indahnya pegunungan dan udara sejuk di Aso, Kumamoto. Bukannya tanpa maksud, aku kesana karena banyak cerita tentang “Baito”. Tapi seyogyanya aku tidak berbicara tentang “Baito” saat ini karena aku lebih tertarik dengan rasanya hidup  di Kumamoto, sebuah prefektur yang bahkan aku tak tahu selama 26 tahun hidup, iya itu kota Kumamoto seperti sebuah desa bagiku yang hidup di Jakarta dan Bandung dalam waktu yang lama, ditempat dimana klakson motor dan teriakan orang yang menjahanamkan kemacetan diatas motor mereka sendiri yang dibayar kredit cicil tidak masuk akal.

Kumamoto seperti self-healing dari kepenatan dan stress psikologis yang berat, dikota ini jam 8 malam (iya pukul 20.00) sudah seperti kota mati dengan sedikit sekali adanya hilir mudik dipinggiran kota Kumamoto. 1.461.000 jiwa di prefektur Kumamoto tidak terlihat sebanyak itu ketika menikmati kesendirian dengan berjalan menyusuri jalanan dengan menggenggam bungkusan oden. Namun aku sadar, yang ditawarkan kota ini adalah indahnya alam dan sejarah dibanding gemerlapnya lampu diskotik modern. Membawaku ke Pelataran Sakura no Baba, Taman pelataran daerah kerajaan Kumamoto dengan ciri khas penjual karage dan taiyaki (kue jepang berbentuk ikan yang beraneka ragam isinya).

Musim terbaik untuk ke Sakura no Baba dimusim semi dan gugur ketika indahnya alam saling bersahutan dengan senyum masyarakat Kumamoto serta sesekali melihat tangan manusia muda saling menggenggam dalam irama cinta. Seharian duduk menikmati Sakura no Baba merupakan wishlist yang receh tapi tak akan gagal menghibur diri yang sedang berantakan.

Kembali lagi ke Sakura no Baba esok sorenya, kurang chill duduk dibawah pohon malam hari, apalagi sendirian. Aku berjalan memasuki Sakura no Baba disambut dengan patung Kumamon, beruang hitam khas Kumamoto dengan tangan diangkat keatas seolah mengajak bercengkrama dengan senyum yang jujur, meluluhkan hati untuk berswafoto seperti anak kecil yang melihat eskrim, tak mau beranjak dari situ. puas, lalu hanya 16 langkah dari Kumamon, seorang obaachan, nenek yang dengan rambut eksentrik dengan apron oranye dibelakang booth karage dan taiyaki menggoda adik kecil yang dipangku ibunya malah memancingku untuk mendekat dengan nada, “Konnichiwa”, tertawa kecil karena tahu aku sudah beberapa kali kesana dan tahu bahwa aku bukan warga lokal. Tanpa ragu aku menggunakan Bahasa jepang alakadarnya dengan tambahan Bahasa tubuh, “Kore Wa Hitotsu, Onegaisumasu”, “Ini satu, please”, sambil menunjuk Taiyaki yang masih terlihat hangat. Ya pastinya dengan sedikit basa-basi yang tidak jelas mengakhiri drama beli Taiyaki isi kacang merah.

Setelah perjalanan akhirnya memutuskan duduk dibawah pohon sakura dengan es jeruk yang aku pesan juga, duduk dibawah sakura emang tidak pernah salah, disini saja aku mulai dari jam 3 siang tanpa sadar matahari sudah menyentuh kening khatulistiwa dan langit berubah warna menjadi khas senja. Melepaskan kepenatan dengan teori, kembalikan semuanya kealam dan semesta akan membalas dengan indahnya dunia dengan cara berbeda.

Tanda untuk beranjak adalah kaki manja ini sudah mulai merengek meminta berjalan pulang dengan menyusuri pelataran dibelakang Sakura no Baba yang jika dianalogikan seperti daerah keraton Yogyakarta, tapi ini lebih luas, diteduhkan dengan nikmat Tuhan dalam bentuk rerimbunan daun dari pepohon kokoh serta banyaknya tenda warna-warni dibawahnya yang mencerminkan standar kegiatan kaum urban Kumamoto ketika berakhir pekan di waktu yang terbaik, yaitu Hanami atau Sakura blossom.

Namun niatku hari ini memang hanya berjalan dan berakhir mengitari setiap sudut taman yang terlihat Kastil Kumamoto yang seolah memperhatikan setiap aktivitas warganya dengan rasa sakit yang ditahan karena gempa Kumamoto tahun 2016. Masih tetap bugar dengan caranya namun tak bisa dipungkiri, crane yang menjulang disamping kastil memberitahu, “Kamu belum sehat, sabar ya”.  Dan karena aku tahu, aku masih ingin jalan sore, sekarang, apa perlu aku ke kastil?, bercerita perspektifku tentang bebatuan dan reruntuhan kastil?

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *