Konten selanjutnya berasal dari salah satu teman kita Raihan Daffa Muhammad. Fun fact, dia ini pemenang lomba kontes video Winter Trip PPIJK loh, check langsung videonya
https://www.instagram.com/reel/DUCkrWck32I/
https://www.instagram.com/raihandaffam/
“Kalau tahu seseru ini, saya pasti ambil program 11 bulan.”
Kalimat itu sering muncul di kepala saya belakangan ini. Nama saya Dave, mahasiswa Magister Sistem Informasi ITS yang saat ini sedang menjalani program student exchange selama 6 bulan di Kumamoto University. Jujur saja, awalnya saya memilih durasi 6 bulan karena pertimbangan akademis; saya ingin segera lulus karena saat ini sudah memasuki semester 3. Namun, Jepang punya cara sendiri untuk membuat waktu terasa berjalan terlalu cepat.
Sambutan Hangat dan “Ujian” Fisik Pertama

Perjalanan saya dimulai dengan transisi yang sangat mulus dari Fukuoka Airport menuju pusat kota Kumamoto via bus. Di Sakuramachi, kami disambut hangat oleh Mbak Luna, mahasiswa Doktoral di sini, yang menjemput saya dan Mbak Levi menggunakan taksi fasilitas kampus. First impression? Luar biasa terorganisir.
Namun, kenyataan hidup di Jepang langsung menyapa saat tiba di asrama. Saya harus membawa koper seberat 20 kg menuju kamar di lantai 4. Tanpa lift. Hanya ada anak tangga dan sisa-sisa tenaga setelah perjalanan panjang. Sebuah sambutan fisik yang mengingatkan saya bahwa kemandirian adalah kunci utama di sini.
Rutinitas “Nge-Lab” dan Koneksi Global

Keseharian saya tidak jauh berbeda dengan mahasiswa pascasarjana lainnya: “nge-lab”, menghadiri kelas, dan mendalami riset sistem informasi. Namun, yang berkesan adalah kesempatan untuk bergabung dalam berbagai acara kampus. Di sana, saya bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang yang sangat kontras, yang perlahan-lahan membuka cara pandang saya tentang dunia internasional.
Menjelajahi Kyushu di Atas Pedal

Jika hari kerja adalah tentang logika, maka akhir pekan adalah tentang eksplorasi. Bersepeda menjadi hobi baru saya untuk menaklukkan sudut-sudut Kumamoto. Mulai dari kemegahan Kumamoto Castle, ketenangan di Botanical Garden, hingga misi pribadi saya: “Ziarah Patung One Piece”.
Setelah bertemu Luffy di pusat kota, saya memacu sepeda lebih jauh—sekitar 15 kilometer—demi menemui sang pendekar pedang, Zoro. Lelah? Tentu. Tapi kepuasan saat sampai di sana tidak bisa dibayar dengan apa pun.
Salju Pertama dan Realita Ice Skating

Puncak pengalaman musim dingin saya adalah saat mengunjungi Kuju National Park. Akhirnya, saya merasakan salju pertama kali! Di sana, saya mencoba bermain ice skating. Jika kamu mengira jatuh di atas es itu menyenangkan atau empuk, kamu salah besar. Es itu sangat keras, rasanya persis seperti jatuh di atas ubin rumah.
Menariknya, saya bertemu orang lokal Jepang yang juga baru pertama kali mencoba skating. Ternyata, mau orang lokal atau pendatang, rasa sakit saat terjerembap di atas es itu sama saja—pahit tapi berkesan!
Penutup
Meskipun durasi 6 bulan terasa singkat, setiap detik di Kumamoto memberikan warna baru bagi perjalanan hidup saya. Bagi teman-teman yang memiliki kesempatan serupa, saran saya satu: ambil durasi terlama yang kalian bisa. Karena pengalaman, teman baru, dan bahkan rasa sakit saat jatuh di arena ski adalah pelajaran yang tidak akan kalian dapatkan di dalam ruang kelas.

0 Comments