Bu Cinta merupakan mahasiswa doktoral dari Jurusan Teknik Sipil dan merupakan salah satu Jasso Scholarship Awardee. Beliau ini juga menjadi salah satu dosen di Teknik Sipil UPN Jatim juga loh. Ternyata dalam kurun waktu 6 bulan, beliau sudah berhasil mengikuti sebuah konferensi, networking, dan mendapat penghargaan loh. Penasaran, kan? yuk baca
Seperti yang kita ketahui, Jepang terkenal dengan teknologi dan sistem struktur bangunannya yang mampu bertahan terhadap gempa bumi. Dalam perancangannya, Jepang menerapkan tiga prinsip utama, yaitu Taishin 耐震 sebagai struktur dasar tahan gempa, Seishin 制震 sebagai sistem peredam getaran, dan Menshin 免震 sebagai sistem isolasi seismik. Teknologi ini memungkinkan bangunan meredam guncangan melalui berbagai pendekatan, seperti penggunaan bantalan karet atau baja pada pondasi, serta material yang lebih fleksibel untuk meminimalkan kerusakan saat gempa terjadi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan utama saya, mahasiswa Program Doktoral dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), untuk terbang ke Negeri Matahari Terbit ini, meskipun hanya sebagai mahasiswa exchange.
Meski program yang saya ikuti tergolong singkat, persiapannya tetap memerlukan banyak tahapan. Beberapa di antaranya adalah menyiapkan esai terkait riset yang sedang dan akan dikerjakan, melampirkan sertifikat kemampuan Bahasa Inggris dengan syarat nilai tertentu, nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang cukup, serta memperoleh kesediaan prospective host supervisor dari Kumamoto University yang akan membimbing jalannya riset saya. Hingga akhirnya saya menghubungi Professor Masahide Matsumura. Bersyukur sebab beliau menyambut hangat dan menyatakan bersedia. Lantas kami pun melangsungkan beberapa diskusi terkait riset dan rencananya melalui e-mail.
Setelah melalui proses seleksi, Alhamdulillah, saya dinyatakan diterima dalam program tersebut. Perasaan ragu? Ada. Namun keinginan saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal baru serta berdiskusi mengenai penelitian yang sedang saya kerjakan secara langsung dengan Matsumura-sensei lebih besar. Saya bergabung dengan 構造力学研究室 Structural System Laboratory di Kumamoto University yang berfokus pada pengembangan desain struktur terhadap beban gempa. Tentu saja ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Senang sekali rasanya, memiliki kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan beliau sebagai salah satu ahli di bidang ini, dan menerima banyak wawasan, sudut pandang baru, serta berbagai masukan yang sangat membantu dalam meningkatkan kualitas penelitian dan penulisan disertasi saya.

Selama berada di Jepang, saya merasakan berbagai budaya dan kebiasaan yang berbeda. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah kebiasaan memisahkan sampah sesuai dengan kategorinya, seperti sampah yang dapat dibakar, sampah kertas, sampah plastik, sampah PET, serta beberapa kategori lainnya, dengan jadwal pembuangan yang telah ditentukan. Sistem ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses daur ulang dapat berjalan dengan lebih efisien.
Selain itu, fasilitas umum di Jepang juga terawat dengan sangat baik. Tersedianya fasilitas pengisian ulang air minum di berbagai sudut kota, serta tingkat keamanan yang tinggi, menjadi daya tarik tersendiri. Di sisi lain, kemampuan Jepang dalam mempertahankan tradisi budayanya juga sangat mengagumkan. Berbagai jenis festival, shrine, kastil, serta seni tradisional seperti kaligrafi Jepang masih dilestarikan dengan sangat baik hingga saat ini.
Selama berada di Jepang, saya juga mencoba mencari kesempatan untuk mengikuti konferensi internasional, dan menemukan salah satunya yang diselenggarakan di Tokyo pada Desember 2025. Konferensi ini bertujuan mempertemukan para peneliti dari berbagai negara, baik dari kalangan akademisi maupun industri, untuk mendiskusikan serta membahas kemajuan riset dan teori terbaru. Selain itu, konferensi ini juga menjadi forum untuk mempresentasikan berbagai penelitian dari beragam bidang, seperti Civil Engineering, Nano Hybrid and Composites, Engineering Materials, Biomimetics, Biomaterials and Biomedical Engineering, serta berbagai topik lain yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
Melalui konferensi ini, para peserta dapat memperoleh perspektif baru di luar bidang penelitian masing-masing. Bagi saya pribadi, dengan latar belakang bidang Steel Structures and Seismic Design, kesempatan ini sangat berharga untuk memperluas wawasan sekaligus memahami perkembangan penelitian di bidang lain. Waktu coffee break juga menjadi momen yang menarik untuk membangun jejaring profesional, seperti bertukar kartu nama, berbagi kontak, serta berdiskusi ringan mengenai aktivitas dan penelitian yang sedang dilakukan.


Konferensi tersebut ditutup dengan acara makan malam bersama. Berbagai hidangan khas Jepang disajikan satu per satu, meskipun tidak semuanya dapat saya nikmati. Saya bahkan tidak begitu ingat semua menu yang disajikan saat itu, namun tentu saja terdapat sushi di antaranya. Pada momen tersebut kami juga memiliki kesempatan untuk mengenal lebih jauh latar belakang pekerjaan dan penelitian masing-masing peserta secara lebih personal. Setelah makan malam, panitia kemudian mengumumkan beberapa makalah yang terpilih sebagai Outstanding Paper.
“Congratulations on the paper entitled Optimizing Seismic Performance in Steel Beam-Column Connections: The Contribution of Cover Plates in RBS Configurations, with Cintantya Budi Casita as the first author.”
There were times when I doubted my research and myself. But this award reassured me that every sacrifices along the way was worth it. Alhamdulillah. MasyaAllah.


Sebelumnya, saya memandang studi ke luar negeri hanya sebatas kesempatan untuk merasakan atmosfer akademik melalui sudut pandang baru. Namun, pandangan saya berubah setelah mengikuti program ini. Studi di luar negeri tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga membuka pemahaman global, memperkenalkan budaya yang berbeda, serta meningkatkan kesadaran terhadap berbagai isu yang dihadapi oleh masyarakat dunia.
Besar harapan saya agar ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dapat memberikan manfaat serta menginspirasi banyak orang, baik melalui tulisan dalam artikel ini maupun melalui lisan yang akan saya bagikan setelah kembali ke tanah air. Selain itu, sebagai akademisi dan pengajar, saya juga berharap agar kesempatan saya ini menjadi langkah awal untuk dapat terjalinnya kerja sama antara institusi tempat saya mengabdi dengan Kumamoto University. Dengan demikian, mahasiswa-mahasiswa saya nantinya dapat termotivasi untuk menjalankan misi yang sama: memperdalam bidang keilmuan dengan belajar langsung di negara yang menjadi pusat keahliannya, tidak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan.
0 Comments