Apakah saya bisa? Itulah pertanyaan yang berulangkali  muncul dibenak saya saat saya memutuskan melanjutkan pendidikan saya di Negeri Sakura ini. Kenapa? Karena saya takut, karena saya khawatir saya kesulitan menyesuaikan diri di Negeri yang sangat asing bagi saya ini, apalagi saya adalah seorang muslim, dan ini pertama kali harus tinggal lama di negeri yang mayoritas non-muslim, apalagi bahasa kesehariannya pun sangat asing di telinga saya. Saya khawatir bagaimana saya bisa beradaptasi, saya khawatir bagaimana orang Jepang nantinya menerima saya, dan saya yakin saya bukanlah satu-satunya pendatang baru di Jepang yang punya kekhawatiran ini.

Ya, pada akhirnya saya berangkat ke Jepang membawa berbagai kekhawatiran ini. Benar saja ketika awal di Jepang ada banyak hal baru seperti:

  • Suara klakson yang sangat jarang terdengar, orang Jepang tidak membunyikan klakson sampai merasa sangat terganggu/dirugikan
  • Aturan pembuangan sampah yang ketat
  • Peraturan bersepeda yang berbeda, disini sepeda diijinkan naik ke trotoar dan menyebrang tidak seperti kendaraan bermotor tetapi seperti pejalan kaki yaitu melalui zebra cross
  • Cara naik transportasi umum terutama bus
  • Adat istiadat di transportasi umum dan tempat umum
  • Tata cara makan minum yang berbeda
  • Sampai hal-hal seperti kebiasaan lab party, orang jepang yg menyapa dengan menundukkan kepala dibanding bersalaman, budaya antri, dll

Hal diatas belum termasuk yang berhubungan dengan sisi saya sebagai muslim, seperti jam kuliah yang bertubrukan dengan waktu sholat, rasa aneh ketika sulitnya mendengar suara adzan karena tidak boleh pengeras terdengar sampai luar masjid, makanan halal yang jauh lebih sulit dicari dan tentu soal cara berpakaian orang Jepang yang sangat berbeda dengan Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim.

Apa yang harus kita lakukan? Disinilah yang harus menjadi perhatian. Kita disini membawa nama Indonesia, tidak hanya nama pribadi, kalau kita jelek, Indonesia pun ikut jelek, dan sebagai seorang muslim kalau perilaku saya jelek, maka Islam dimata orang jepang pun bisa ikut jelek. Bagaimana kita sebagai minoritas bisa menghormati budaya yang ada, menjalankan tata aturan yang ada di negeri orang, dan bagaimana dengan tingkah laku kita, kita bisa juga disegani oleh orang Jepang, itulah PR besar kita. Ada beberapa tips belajar jadi minoritas yang bisa kita perhatikan:

  1. Selalu taat aturan yang berlaku, apabila melihat orang jepang melanggar peraturan, jangan ikut-ikut melanggar, polisi cenderung lebih keras terhadap orang asing. Ingat teman-teman disini membawa nama negara kita Indonesia
  2. Ketika bingung selalu bertanya ke yang lebih senior, jangan malu bertanya
  3. Join komunitas Indonesia, dan ikuti selalu berita disana
  4. Bagi yang muslim join komunitas muslim untuk lebih tau soal masalah halal haram makanan, dll
  5. Selalu tepat waktu apabila berjanji sesuatu, usahakan datang beberapa menit sebelumnya. Apabila tidak bisa menghadiri jangan memberi kabar dadakan.
  6. Senyum, sapa, salam, dan bersikap ramah ke orang jepang, terutama yang tinggal disekitar kita atau yang sering kita temui.
  7. Kalau memiliki teman Jepang yang bisa akrab dengan orang asing, pelihara selalu pertemanan ini, InsyaAllah akan sangat bermanfaat bagi kita.
  8. Belajar bahasa jepang untuk keseharian. InsyaAllah ini sangat berguna bagi kita walaupun kuliah menggunakan bahasa Inggris. Manfaatkan fasilitas google translate ketika bingung bicara dengan orang jepang, juga untuk menscan tulisan jepang di bahan makanan atau yg lainnya.
  9. Tambahan untuk yang muslim, perkenalkan diri apa adanya dan katakan bahwa anda adalah seorang muslim ke sekitar termasuk teman lab dan sensei, apa batasan yang tidak bisa kita langgar sebagai muslim, kemudian soal adanya waktu sholat segala macam. Orang jepang walaupun banyak yg non-muslim, bahkan banyak yg tidak beragama, mereka tetap menghormati kepercayaan orang lain.

Jepang pada dasarnya negara yang ramah terhadap orang asing, dihadapan pemerintah jepang kita diperlakukan sama, selayaknya warga negaranya sendiri, salah satunya terasa saat Kumamoto dilanda gempa besar April lalu. Mereka juga memberi warga asing tunjangan untuk anak-anaknya, anak-anaknya diwajibkan untuk sekolah disini tidak boleh tidak agar pendidikannya terjamin, apabila ada yang tidak normal pada kesehatan anak-anak kita pun mereka sangat perhatian. Ada cerita seorang teman kita disini asal Afganistan, anaknya lahir di Jepang dengan kelainan di jantungnya, oleh pemerintah Jepang dia tidak diperkenankan pulang sampai seluruh prosedur operasi selesai yang memakan waktu 3 tahun. Teman kami yang asalnya hanya kuliah master disini pun oleh para professor di kampus dicarikan beasiswa sehingga dia melanjutkan sekaligus untuk Doctoral disini. Terlihat disini betapa pedulinya Jepang, padahal kalau kita pikir, mungkin dipersilakan saja pulang juga tidak masalah, malah selesai tanggungan mereka.

Selain cerita diatas pun masih banyak cerita lain disini tentang kemudahan yang bisa didapatkan oleh orang asing yang tinggal/menetap di Jepang. Namun demikian pemerintah jepang tetaplah bersikap ketat, istilahnya mereka menuntut orang asing untuk bisa mengikuti aturan mereka karena dah dikasih ijin tinggal disini. Jangan sekali-kali mencoba berbuat sesuatu yang mungkin mendatangkan denda, bahkan untuk pengendara sepeda saja, ketika ketahuan menggunakan HP misalnya sambil bersepeda dendanya bisa 50.000 Yen kalau polisi baru tegas, beruntung kalau sekedar diberi peringatan. Jepang negara yang pada dasarnya menghargai orang asing sebagai bentuk tanggung jawab mereka juga terhadap kesanggupan mereka untuk memberikan ijin tinggal disini, maka selayaknya juga kita sebagai minoritas bisa menjaga sikap dan perbuatan kita selama kita tinggal di Jepang, toh kalau kitanya baik Indonesia juga bisa ikut baik namanya dimata Jepang dan Internasional.

Akhir-akhir ini dikarenakan beberapa kejadian pelanggaran yang dilakukan oleh orang asing di Jepang, termasuk banyak diantaranya dari Indonesia peraturan menjadi semakin ketat, pihak keimigrasian pun tidak segan memulangkan orang yang dianggap mencurigakan, dianggap tidak tertib ketika berada di bandara. Kesaksian dari Ibu Desy E Wulansari yang suaminya menyambi sebagai tour guide bisa jadi pembelajaran, Akhir Desember lalu dimana ketika menjemput serombongan turis dari Indonesia berjumlah 11 orang, hanya 2 diantaranya yang lolos pemeriksaan imigrasi, yang lainnya dipulangkan meskipun memiliki visa dikarenakan dianggap tidak tertib dan mencurigakan tingkah lakunya. Kejadian lain ada serombongan berisikan 16 orang dari Indonesia dengan visa turis semuanya ditolak, dipulangkan oleh pihak imigrasi. Dua kejadian ini hanyalah sedikit contoh saja dari banyaknya kasus lain, maraknya pekerja ilegal asal Indonesia yang masuk dengan visa turis jadi salah satu penyebab lebih ketatnya Jepang dalam memberi pengawasan. Ingat Visa bukanlah jaminan anda bisa masuk negeri Jepang, yang menentukan bisa atau tidaknya adalah pihak imigrasi di bandara tujuan. Ingatlah bahwa kita yang berbuat tetapi yang merugi bisa banyak orang dan Ingat pula dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung! (nn)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *