img_0163

Hal-Hal ‘Asing’ yang Lumrah ada di Jepang (2)

Melanjutkan Edisi 1 mengenai hal-hal yang asing di Indonesia tetapi lumrah berada di Jepang. Inilah list beberapa hal yang terlihat aneh bagi orang Indonesia tetapi umum ada di Jepang:

Penggunaan Masker

Banyak orang Jepang yang kemana-mana menggunakan masker. Maskernya pun bukanlah masker untuk gaya melainkan masker-masker putih yang bisa kita temui di toko-toko pada umumnya. Alasan orang Jepang menggunakan masker beragam sekali mulai untuk kesehatan, agar tidak menularkan flu, agar bau mulut tidak tercium, agar bau tidak sedap di sekitar tidak tercium, alergi debu/serbuk bunga, melindungi dari udara dingin pada musim dingin, menutupi wajah yang tanpa make up, dll. Orang Jepang pun sudah sama-sama maklum dengan kondisi ini, bahkan petugas bank/kantor pelayanan yang di dalam ruangan pun biasa tetap bekerja dengan masker di dalam ruangan.

Jumlah Mobil dan Sepeda yang lebih banyak dari Motor

Di Indonesia hampir semua rumah memiliki sepeda motor tetapi tidak semua orang memiliki mobil, di Jepang orang yang memiliki mobil justru jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang memiliki motor. Jumlah pengguna sepeda pun khususnya di Kumamoto ini juga lebih banyak daripada yang memiliki motor, ini bisa terlihat jelas di lingkungan kampus. Penggunaan motor oleh sebagian orang Jepang dianggap ‘nanggung’ karena motor tidak bisa melindungi mereka apabila kepanasan ataupun kedinginanan, sedangkan transportasi sepeda lebih menjadi pilihan untuk perjalanan dalam jarak pendek dibandingkan menggunakan sepeda motor.

Laki-laki Tidak Malu Menggunakan Barang yang ‘Tidak Maskulin’

Orang Jepang suka memandang barang berdasarkan fungsinya, sehingga seringkali kita bisa melihat laki-laki yang menggunakan barang yang ‘kurang maskulin’ alias ‘kurang manly’, tapi tentu maksudnya bukan yg laki-laki pada pake pakaian wanita gitu ya. Contoh paling umum adalah sepeda yang paling banyak digunakan disini adalah sepeda mini yang memiliki keranjang didepannya. Selain itu tidak jarang juga kita melihat laki-laki yang menggunakan tas kerja yang bagi kita terlihat seperti tas kerjanya wanita. Salah satu alasannya mungkin adalah orang Jepang banyak yang mengutamakan soal fungsi daripada tampilan. Sepeda mini dengan keranjang tentu lebih praktis membawa barang apabila kita ingin belanja maupun membawa tas kita di dalamnya, sedangkan tas kerja yang mirip dengan tas kerja wanita ini bisa dilihat biasanya memiliki space lebih luas.

Berpakaian Bebas di Kampus

Kampus tidaklah menentukan aturan berpakaian ketika mengikuti kuliah atau berada di dalam laboratory. Di Indonesia sebebas apapun pakaian biasanya masih terikat aturan tertentu misal penggunaan celana panjang, sepatu, dll tetapi tidak di Jepang, sampai-sampai ada yang bilang selama masih berpakaian pun pasti gak akan ada masalah, mau apapun pakaiannya. Disini orang-orang di kampus berpakaian bebas, wanita ke kampus selayaknya mau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, memakai high heels, bermake up tebal, dll. Yang laki-laki pun ketika musim panas biasa menggunakan celana pendek, kaos tanpa lengan di kelas. Alas kaki pun bebas walaupun orang Jepang lebih suka menggunakan sepatu tetapi menggunakan sandal jepit untuk masuk di kelas pun sesuatu yang terlihat normal normal saja.

Orang-orang Jepang yang Curhat ke Pemilik/Pelayan Warung Makan

Warung-warung makan yang modelnya seperti bar dimana pemilik warung makan atau pelayan biasanya memasak hidangannya langsung di depan kita terkadang menjadi pilihan bagi banyak orang Jepang bukan karena sekedar makanan yang enak tetapi juga karena pemilik warung makan atau petugas yang melayani bisa sekaligus menjadi tempat curhat bagi orang-orang ini. Pemilik warung dan pelayan pun menyadari sepenuhnya sehingga mereka tidak hanya sekedar menyajikan makanan lezat bagi pelanggannya tetapi juga berusaha menjadi teman bicara yang baik bagi para pelanggannya agar para pelanggannya ini setia untuk datang ke warung makan mereka.

Razia Pengendara Sepeda

Razia kendaraan bermotor justru jarang terlihat di Jepang khususnya Kumamoto. Beberapa kali justru polisi melakukan razia terhadap para pengendara sepeda. Hal ini salah satunya biasanya diadakan untuk mencari sepeda yang hilang atau dicuri. Alasan lain adalah untuk mengecek Id dari para pengendara sepeda ini dikarenakan saat ini banyaknya orang-orang asing yang secara ilegal tinggal di Jepang. Alasan yang lain lagi adalah untuk memperingatkan orang-orang akan aturan-aturan dalam berkendara sepeda atau kelengkapan yang harus dimiliki sepeda. Kalau teman-teman tinggal di Jepang pastikan selalu membawa passport atau residence card ya.

Kepercayaan Pada Angka dan Hari Sial

Sepertihalnya di dunia barat yang menganggap 13 sebagai angka sial, di Jepang orang-orang menganggap angka 4 dan 9 sebagai angka sial. Akibatnya di berbagai apartment misalnya kamar dengan nomor 4 dan 9 tidaklah ada. Lantai yang seharusnya lantai 4 dan 9 pun diskip ke lantai berikutnya. Hal ini dikarenakan bunyi kedua angka ini yang mirip dengan kata lain yang berarti buruk seperti 4 yang dibaca shi yang bisa berarti kematian, dan 9 yang dibaca ku yang bisa berarti penderitaan. Tanggal-tanggal yang mengandung angka ini pun dianggap hari yang buruk untuk mengadakan suatu pesta seperti pernikahan. Selain itu ada juga yang percaya bahwa hari Rabu yang merupakan hari ke-4 dalam 1 minggu bila dihitung dari hari minggu sebagai hari yang tidak baik sehingga banyak pemilik toko tidak membuka usahanya pada hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *