Manjadda wa jada: Keliling Jepang dengan Bersepeda Ontel

Oleh:Heriyanto Nurcahyo

Manjadda wa jada! Itulah jawaban yang beliau berikan saat kami Tanya alasan dibalik “aksi” nekadnya itu.Bagaimana tidak nekad, di usia 53 tahun masih memiliki keinginan yang “ABG” banget. Aksi yang beliau lakukan ini bukanlah semudah membalik telapak tangan,ya, tidak semudah itu.Terlebih lagi dilakukan di tengah kondisi musim dingin yang sangat ekstrim tahun ini.Badai salju dan suhu yang merosot tajam sampai minus 38 C. Jalanan yang berubah menjadi lautan es,pohon-pohon yang membeku menyimpan kesunyian musim dingin,badan menggigil dan kulit meronta meminta kehangatan tidak juga mampu menyurutkan niatnya. Dengan semangatnya itulah ia mampu membakar dirinya di tengah kedinginan di sepanjang lorong-lorong yang menghubungkan satu kota ke kota lainnya. Dengan semangatnyalah ia mampu memperpendek jarak ratusan kilometer dalam persepsi-persepsi di benaknya. Dan dengan semangat itupulalah beliau melihat setiap tantangan tak ubahnya sebuah permainan yang harus tepat dan cepat beliau selesaikan. Dan akhirnya beliaupun memenangkan permainan itu!Manjadda Wa Jadda. Keliling Jepang Bersepeda Ontel!

Memang tidaklah muda untuk melakukan perjalanan jauh di musim dingin semacam ini. Apalagi jika perjalannya dilakukan dengan mengayuh sepeda angin. Kita bisa membayangkan tantangan yang dihadapinya. Tidak usah terlalu jauh, saat kita bersepeda dari kaikan ke kampus kumadai di pagi hari,terlebih lagi dibawah suhu minus,kita merasakan cobaan yang begitu berat,tidak saja telinga yang nyeri pun juga badan yang terasa seolah-olah membeku. Kadang hidung mengeluarkan air ditengah hempasan suhu dan angin yang sangat dingin. KOndisi semacam itu kadang membuat kita malas untuk segera bangun dan memulai aktifitas.Lain halnya dengan beliau yang tetap semangat untuk mengejar mimpinya meski dingin,tanjakan,turunan,kelaparan,haus membayangi setiap langkahnya. Dan konon,kondisi yang ekstrim ini jugalah yang telah merenggut puluhan nyawa di Jepang,Rumania, Polandia dan beberapa Negara lain. Sesuai hokum alam, kondisi ekstrim semacam ini akan hanya menyisahkan mereka yang memiliki ketahanan tubuh yang super “fit”. Dan beliau satu bagian dari itu.

Jarak ratusan kilometer beliau lalui tanpa rasa menyesal sedikitpun.Meski tanjakan dan gunung menghadang didepannya,namun keyakinannya telah menghapus kepedihan itu dengan melihat jalan menurun yang akan segera ia temukan. Sama halnya dengan gelapnya malam bukanlah sesuatu yang harus kita sesali.Mengingat kegelapan di malam hari adalah pertanda baik akan munculnya sinar matahari sesudahnya.
Sekali lagi,ternyata yang banyak membedakan kita dengan orang lain di luar sana adalah semangat itu sendiri. Sehebat dan sekuat apapun kita,kalau semangat itu tidak bersamanya,maka ia akan hanya menjadi laksana mobil mewah tanpa bahan bakar yang menggerakannya. Musproh dan tidak memberi manfaat bagi dirinya sendiri terlebih lagi orang lain.Kita hanya bisa mengaguminya,membangga-banggakan namun tidak memiliki arti yang sesungguhnya bagi hidup dan kehidupan kita.Kita justru akan hanya dibebani oleh potensinya yang luar biasa,namun aksinya sangatlah tidak berarti apa-apa dalam kehidupan ini. Dari sinilah semangat itu patut kita jadikan salah satu suntikan berarti bagi jiwa kita dalam menapaki hari-hari kita kedepannya. Dalam mengarungi tugas dan kewajiban dan dalam mewakafkan diri bagi Indonesia Yang Lebih Baik melalui Pendidikan.Semoga ini bisa menginspirasi kita untuk tetap semangat dalam mengejar dan mewujudkan mimpi-mimpi indah dan besar kita.Sekali lagi:manjadda wa jada!

Oh ya,hampir lupa,memperkenalkan tokoh dibalik tulisan ini.Beliau adalah Bapak Irwan Jamaludin,alumni Kyoto Daigaku. Saat ini beliau mendampingi istrinya yang melaksanakan pertukaran dosen .Istri beliau adalah dosen jurusan Bahasa Jepang UGM dan saat ini mengajar Bahasa Indonesia di Chuo University Tokyo.Selamat Jalan semoga Selamat Sampai Tujuan:Ganbatte Kudasai!

13284409451609459493

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *